Fathimah dan Ide Yang Tiada Habisnya

5 Januari 2015Print

Fathimah, putri sulungku, adalah anak yang memiliki ide yang tidak ada habisnya. Terus terang, sebagai orang tua, aku kewalahan dengan ide-idenya yang setiap hari tumpah ruah dan berharap bisa difasilitasi. Ide-ide itu kupikir lahir dari interaksinya dengan guru dan teman-temannya di sekolah dan beberapa film seri yang kupilih untuk dia tonton. Ada Doc Mcstuffin, Handy Many hingga Masha and The Bear.

Fathimah membawa biji pepaya. Sambil menatap wajahku dia berkata : “Pipi, aku ingin belajar menanam biji ini, please!”. Karena halaman depan sudah penuh oleh beton, aku ambil segenggam tanah dari pot tanaman dan disimpan di potongan botol mineral. “Terima kasih”. Dia dengan gembira menanam biji itu pada ladang tanaman pertamanya. Keesokan harinya, dia datang lagi dan berkata “Pipi, koq pepayanya belum tumbuh ya? Padahal aku sudah sirami dia dengan air”.  Ha ha ha. Aku teringat dengan salah satu episode di film MATB dimana si Beruang menanam wortel, disiram, dan langsung tumbuh besar. “Fathimah,  kalau wortelnya si Beruang itu khan Cuma film. Pada kenyataannya, biji itu akan tumbuh pelan-pelan, sampai berbulan-bulan, hingga dia tumbuh besar”. “Ohh..begitu ya” jawabnya.

Fathimah minta aku untuk menyediakan celengan untuk tabungan. Setiap hari, dia meminta beberapa rupiah untuk dia tabung di dalam celengannya itu. Aku pun bertanya, untuk apa tabungan itu. “Ya, siapa tahu nanti kalau sudah besar aku butuh laptop kaya Pipi dan Mimi jadi aku bisa beli sendiri dengan uang tabungan ini dan tidak usah minjam khan” katanya.  Jauh benar pikirannya, gumamku dalam hati. Dia menyimpan celengan itu di suatu tempat yang ‘dirahasiakan’ katanya jadi tidak bisa diambil oleh ayah dan Ibunya dan juga neneknya.

Fathimah meminta beberapa kertas hvs kosong. Aku bertanya: “buat apa?”. Jawabannya :”Aku ada ide. Nanti Pipi lihat sendiri ya!”.  Dia pun mengeluarkan beberapa pensil warna yang dipunyai dan langsung membuat tulisan dan gambar. Cukup lama. Hingga dia datang membawa beberapa kertas yang sudah penuh dengan gambar dan warna. “Ini buat Pipi” katanya menyerahkan kertas hvs yang sudah dilipat 4 seperti amplop dengan gambar wajah “pipi” di sampulnya. Aku buka dan tertegun tak bisa berkata apa-apa. Disana ada tulisan dia tentang cinta, sayang, harapan dan juga ‘pesanan’ untuk memfasilitasi ide berikutnya. Surat yang sama dia berikan untuk Ibunya, untuk adiknya, Ali. Tinggal ada satu surat lagi. “Itu buat siapa?”. “Ini buat Dede Howdy” katanya. Nama itu adalah nama panggilan untuk calon adiknya yang Insya Allah akan lahir pertengahan maret ini. “Boleh Pipi buka?”. “Boleh”. Aku pun membukanya. Isinya adalah sebuah gambar ‘teknik’ tentang ayunan, digantung di pohon dengan tali, bla-bla-bla. Dia bisa menuliskan bagaimana membuat sebuah ayunan dengan tali yang tergantung di pohon dengan runut. Dengan tulisan cover “Untuk Dede Howdy, bidadari tercantik”. Aku lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa.

Fathimah bertanya kepadaku “Pipi, bagaimana sih orang bisa membuat pesawat terbang”. Hmm…Pipinya kehabisan ide. “Ayo kita tanya sama google saja” kataku mengajaknya browsing di internet. Keluarlah beragam informasi den video tentang bagaimana membuat pesawat terbang. Fathimah nampak menikmati informasi tentang how-to-make-a-plane itu dengan lahapnya. Bahkan, pada video lain, dimana ada cara membuat pesawat terbang ‘mainan’ dia berkata “Pipi, tunggu sebentar ya!”. Dia berlari menuju tempat kertas HVS berada dan langsung kembali ke depan laptop dan memulai meniru tutorial pembuatan pesawat terbang mainan itu sampai selesai.

Ditengah keterbatasan waktu yang aku punya, sebenarnya ingin sekali mengeksplor lebih jauh luapan ide Fathimah setiap harinya. Ingin sekali aku buat semacam weekly project dimana Senin-Jumat kita belajar sesuatu, apapun itu, dan Sabtu-Ahad, bila proyek sudah sukses, aku kasih reward untuk jalan-jalan mengunjungi museum atau tempat-tempat menarik lainnya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi keluangan umur dan rizki sehingga luapan ide itu dapat dikelola oleh orang tuanya dan tidak hilang begitu saja ditelan waktu.

Tinggalkan komentar