Kehilangan

18 April 2011

Dalam satu minggu terakhir, aku mencoba memahami skenario yang Allah Ta’ala gariskan dalam kehidupanku. Buah hatiku, Umar Abdurrahman, dipanggil ke peraduan-kehilanganNya setelah berjuang lima hari dalam sakit kejang dan berujung koma dan akhirnya meninggal. Jiwa mana yang tidak akan menangis ketika seorang anak lelaki yang tampan, ceria, sedang lucu-lucunya tiba-tiba saja diambil dari pangkuan saat aku dan istriku masih menikmati hari-hari indah dalam mencintai dan menyayanginya. Hati siapa yang tidak akan tersedu saat tubuh kecil yang kemarin masih bergerak lincah kesana kemari dengan babywalker, berbicara terbata-bata, dan tertidur pulas dalam dekapanku saat kunyanyikan lagu-lagu kesukaannya (Nelengnengkung, Pat Lapat) atau bertepuk tangan saat mendengar lagu Taman Kanak-Kanak tiba-tiba saja terbujur kaku dalam pangkuanku saat air dingin menelusuri setiap sudut tubuh gemuknya saat dimandikan.

Banyak orang datang, berta’ziah, mengungkapkan kata-kata penghibur, memanjatkan do’a, dan memberikan ucapan belasungkawa. Orang banyak berkata, kamu beruntung, punya tabungan nanti di yaumil akhir. Yang lain berkata, kami salut denganmu yang masih tetap tegar dan bisa menjelaskan hal ihwal sakitnya Umar tanpa air mata. Ah…mereka tidak tahu, air mata ini telah terkuras habis dalam hari-hari terakhirnya di rumah sakit. Saat kami, aku dan istri, merasa begitu dekat dengan Allah Ta’ala sehingga air mata ini tak habis mengalir membasahi sujud panjang kami. Saat do’a-do’a dipanjatkan dengan begitu khusyuk kehadirat-Nya. Air mata ini pun terurai saat mengunjungi Umar yang tergeletak lemah tak berdaya dengan alat bantu kehidupan ‘mengeroyok’ tubuh mungilnya. Infus di tangan, ventilator, alat asupan makanan, alat pemantau detak jantung dan tekanan darah. Ahh…basahlah mata ini menatap perjuangan Umar yang begitu beratnya. Saat itu, didepan tempat tidurnya, kami hanya bisa tertegun dan terisak. Istriku mendekat, mengusap kepalanya, menciumi wajahnya, dan terdengar doa-doa dipanjatkan dalam nafasnya yang tersengal karena tangisan.

11 bulan terakhir adalah 11 bulan paling mengesankan dalam kehidupanku. Saat Allah Ta’ala mengamanahkan keluarga ini dengan seorang bayi laki-laki yang sangat shaleh dan tidak rewel. Bayi laki-laki yang bukan saja menjadi kebanggaan kami orang tuanya tetapi juga kecintaan kakek dan neneknya. Bayi laki-laki yang selalu tersenyum dan jarang sekali menangis. Bayi laki-laki yang menjadi penghibur lara dan letih saat kami pulang dari tempat kerja. Bayi laki-laki yang begitu kami cintai dengan segenap jiwa dan raga kami. Bayi laki-laki yang kami namai Umar Abdurrahman. Dengan berharap bahwa besar nanti dia bisa menjadi lelaki yang tegas dalam menegakkan kebenaran tetapi tetap santun dan mengasihi sesamanya.

Namun, rencana Allah Ta’ala berkata lain. Umar Abdurrahman ternyata terpilih untuk kembali keharibaan-Nya.

Rabbana, ajari kami untuk dapat ikhlas dalam menghadapi setiap keputusanmu, sebagaimana Ibrahim ‘alaihi salam yang diuji keikhlasannya saat menjalankan perintah-Mu untuk menyembelih putranya Ismail ‘alaihi Salam.

Rabbana, ajari kami untuk dapat tegar dalam menghadapi kehilangan ini, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tetap tegar saat memangku Ibrahim putra lelaki kesayangannya saat dipanggil oleh-Mu saat masih kecil.

Rabbana, ajari kami untuk dapat memahami ibrah apa yang terkandung didalam setiap kejadian dalam kehidupan kami.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri (Al-Quran Surat Al-Hadid, 22-23)