8 Januari 2015
Fragment I:
Suatu hari Fathimah dimarahi oleh Nenek dan Bundanya. Pasalnya, seusai mandi, rambutnya penuh dengan potongan-potongan benda kecil yang tidak diketahui darimana asalnya.
“Lho, ini putih-putih kenapa Fathimah?” tanya Nenek.
“Ini, aku khan lihat di halaman ada bunga yang harum. Aku potong kecil kecil bunga itu dan kutaburkan di rambutku agar rambutku harum”
Sontak saja Nenek dan Bundanya kaget.
“Kamu koq coba-coba begitu. Nggak boleh sembarangan. Walau bunganya harum tapi tidak begitu caranya” ujar Nenek. Bundanya pun ikut memarahi Fathimah yang dianggap tidak memberitahukan “eksperimennya” itu kepadanya.
Aku yang sudah sejak tadi melihat percakapan itu memanggil Fathimah.
“Fathimah. Sini. Pipi mau tanya, kenapa Fathimah melakukan itu?”
“Pi, aku ingin mencoba. Kemarin aku lihat Khadijah dimandikan oleh Nenek dan rambutnya dilumuri oleh bunga-bungaan. Aku bertanya pada Nenek itu apa. Kata Nenek ini bunga kembang sepatu. Aku tertarik untuk mencobanya jadi aku melakukan sendiri”.
“Jadi yang tadi Fathimah potong kecil-kecil untuk rambut itu bunga kembang sepatu?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya menemukan bunga yang harum di halaman depan jadi ya aku coba saja”
“Fathimah, begini. Engkau boleh mencoba sesuatu yang kamu tertarik untuk melakukannya. Hanya saja, dalam melakukan segala sesuatu itu kamu harus memiliki ilmu tentangnya. Fathimah ingat tempo hari Krong, temannya Pororo, masuk ke rumahnya Edy kemudian mencoba menjalankan robot buatan Edy. Bolehkah Krong melakukan itu? Tentu saja boleh. Tetapi Krong seharusnya bertanya dulu kepada Edy. Kenapa? Karena Edy yang lebih memahami bagaimana menjalankan robot itu. Jadi, untuk selanjutnya, kalau Fathimah memang mau keramas dengan bunga, Fathimah tahu khan kepada siapa Fathimah harus bertanya?”
“Iya. Kepada Nenek. Karena Nenek yang lebih tahu kembang apa yang bagus untuk rambutku”
“Bagus. Jadi Fathimah sudah mengerti ya?”
“Iya Pi.
Fragment II:
Meja setinggi 1,2 meter itu baru kemarin aku masukkan ke ruang tidur. Bukan apa-apa, Segala macam peralatan bayi punya Khadijah tidak elok dipandang berada di lantai berserakan jadi kupikir ada baiknya di simpan di bagian bawah meja tersebut.
Ternyata, meja itu menarik perhatian Ali. The Little Climber yang sudah sukses menaiki meja belajar Fathimah, meja makan dan teralis jendela ruang tamu itu, nampaknya sangat tertarik untuk menaklukan meja baru tersebut. Apalagi, karena meja itu berada di sudut dan bersinggungan dengan tempat tidur, dengan mudahnya dia naik ke meja barunya itu. Tapi, tidak semudah yang Ali kira, karena setiap kali dia naik maka Bundanya terus melarangnya. “Ali, jangan naik, nanti jatuh”. Ali pun berulangkali mengurungkan niatnya menaiki meja yang berdiri menantangnya itu.
Sampai suatu saat, ketika Bunda sedang membereskan dan kamar tamu dan kami diminta eksodus ke kamar tidur, Ali punya kesempatan besar untuk melaksanakan keinginannya itu. Sesaat, Ali melihat ke arahku. Agak ragu, dia mulai menaiki meja itu. Aku hanya memperhatikan saja. Dia semakin berani karena ternyata Ayahnya tidak melarangnya untuk melakukan itu. Sampai dia berada diatas meja tersebut, berdiri dan memandang ke bawah seolah berkata “Yes, aku berhasil menaklukan meja itu”.
“Ali, ayo turun” Kataku singkat.
Ali pun berubah posisi dari awalnya berdiri menjadi jongkok dan akhirnya duduk dan akan turun.
“Bukan begitu caranya”
Aku menghampirinya, memintanya berdiri lagi dan aku meminta kedua tangannya memegang tanganku erat.
“Siap?. Meluncur”
Aku mengangkat tangannya seperti anak-anak bermain flying fox dari atas ke bawah. Iya, dia senang sekali dan berteriak “Yeeee….”
Berulangkali aku melakukan itu sampai pada suatu saat.
“Nah, sekarang Pipi tidak akan pegang tangan Ali lagi. Sekarang Ali loncat ya”
Dia bingung. Dia harus menaklukan ketinggian 1 meter dengan meloncat. Tentu saja landingnya bukan di lantai tapi di kasur yang tingginya 15-20 cm dari atas lantai.
“Ayo loncat. Jangan takut ya. Pipi hitung ya, 1,2,…..3”
Dia pun melakukan loncatan pertama dan mendarat di atas kasur dengan sempurna. Kembali, ini kegirangan kedua. Dia pun melakukan loncatan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai Bundanya datang dan latihan “Parkour” pun usai
Dunia anak adalah dunia tanpa rasa takut. Selalu ada risiko dari setiap aktivitas luar biasa yang mereka lakukan. Yang harus kita lakukan bukanlah membuat sekat yang sempit mengelilinginya sehingga dia tidak pernah mencoba menaklukan tantangan-tantangan baru setiap harinya. Yang perlu kita lakukan adalah memberikan arahan pada mereka agar setiap ekperimen, ekplorasi, tantangan dan pengalaman baru yang mereka jumpai setiap harinya dapat dijalani dengan aman dan terjauh dari risiko yang membahayakan keselamatannya.
Fathimah, Ali, ini dunia kalian. Belajarlah darinya sebanyak mungkin. Insya Allah, selagi Allah Ta’ala memberikan luang waktu pada Ayahmu di dunia ini, akan kutemani kalian mengarungi perjalanan luar biasa yang terbentang luas di hadapan kalian.