Surat dari Ayah

Fathimah, Ali dan Khadijah yang Ayah sayangi,

Bekal terbaik untuk mengarungi kehidupan ini adalah ilmu. Allah Ta’ala mengangkat suratderajat para pecinta Ilmu berlipat derajat. Malaikat-Malaikat-Nya senantiasa berdoa kepada kita manakala kita berada di majlis ilmu. Ilmu akan bertambah bila kita berbagi kepada orang lain. Ilmu pun akan menjaga kita dari keburukan. Oleh karenanya, hiasilah dirimu dengan Ilmu. Ilmu yang bermanfaat untuk kehidupanmu. Di dunia dan akhirat nanti.

Fathimah, Ali dan Khadijah yang Ayah kasihi,

Perjalanan di dunia ini seperti mengarungi samudera yang penuh badai. Kalian harus memiliki bekal untuk menghadapi semua rintangannya. Bukan bergudang harta, bukan berlimpah emas permata. Bekal terbaik yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam titipkan kepada kita adalah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Keduanya ibarat peta dan kompas dalam kehidupanmu. Pelajari dan dalamilah keduanya sepanjang kehidupanmu. Sehingga engkau akan mengerti tujuan hidupmu sebenarnya dan tidak akan pernah tersesat.

Fathimah, Ali dan Khadijah yang Ayah cintai,

Kalian adalah manusia-manusia terbaik yang Allah Ta’ala amanahkan kepada Ayah dan Bunda. Oleh karenanya, tetapkan cita-citamu setinggi langit dan bekerjalah dengan keras untuk meraihnya. Jangan pernah malas dan berpangku tangan. Ingat, bila kita lemah terhadap diri kita, maka kehidupan akan keras kepada kita. Sebaliknya, bila kita keras dan tegas terhadap diri kita, maka kehidupan akan lemah kepada kita.

Fathimah, Ali dan Khadijah yang Ayah kagumi,

Bila kalian telah berhasil meraih apa yang kalian cita-citakan di dunia ini, jangan lupakan Bundamu. Dialah yang mengandung kalian selama 9 bulan dan berjuang antara hidup dan mati. Dialah yang menyusui kalian selama dua tahun, menjaga kalian sepanjang malam dari gigitan nyamuk, mengganti popok yang kotor karena kotoran kalian. Ciumlah tangannya, peluklah dia dan katakan: Fathimah dan Umar akan selalu sayang sama Bunda.

Oh ya, untuk sementara sekian dulu surat dari Ayah. Besok ayah lanjutkan lagi.
Peluk cium ayah tersayang

Kehilangan

18 April 2011

Dalam satu minggu terakhir, aku mencoba memahami skenario yang Allah Ta’ala gariskan dalam kehidupanku. Buah hatiku, Umar Abdurrahman, dipanggil ke peraduan-kehilanganNya setelah berjuang lima hari dalam sakit kejang dan berujung koma dan akhirnya meninggal. Jiwa mana yang tidak akan menangis ketika seorang anak lelaki yang tampan, ceria, sedang lucu-lucunya tiba-tiba saja diambil dari pangkuan saat aku dan istriku masih menikmati hari-hari indah dalam mencintai dan menyayanginya. Hati siapa yang tidak akan tersedu saat tubuh kecil yang kemarin masih bergerak lincah kesana kemari dengan babywalker, berbicara terbata-bata, dan tertidur pulas dalam dekapanku saat kunyanyikan lagu-lagu kesukaannya (Nelengnengkung, Pat Lapat) atau bertepuk tangan saat mendengar lagu Taman Kanak-Kanak tiba-tiba saja terbujur kaku dalam pangkuanku saat air dingin menelusuri setiap sudut tubuh gemuknya saat dimandikan.

Banyak orang datang, berta’ziah, mengungkapkan kata-kata penghibur, memanjatkan do’a, dan memberikan ucapan belasungkawa. Orang banyak berkata, kamu beruntung, punya tabungan nanti di yaumil akhir. Yang lain berkata, kami salut denganmu yang masih tetap tegar dan bisa menjelaskan hal ihwal sakitnya Umar tanpa air mata. Ah…mereka tidak tahu, air mata ini telah terkuras habis dalam hari-hari terakhirnya di rumah sakit. Saat kami, aku dan istri, merasa begitu dekat dengan Allah Ta’ala sehingga air mata ini tak habis mengalir membasahi sujud panjang kami. Saat do’a-do’a dipanjatkan dengan begitu khusyuk kehadirat-Nya. Air mata ini pun terurai saat mengunjungi Umar yang tergeletak lemah tak berdaya dengan alat bantu kehidupan ‘mengeroyok’ tubuh mungilnya. Infus di tangan, ventilator, alat asupan makanan, alat pemantau detak jantung dan tekanan darah. Ahh…basahlah mata ini menatap perjuangan Umar yang begitu beratnya. Saat itu, didepan tempat tidurnya, kami hanya bisa tertegun dan terisak. Istriku mendekat, mengusap kepalanya, menciumi wajahnya, dan terdengar doa-doa dipanjatkan dalam nafasnya yang tersengal karena tangisan.

11 bulan terakhir adalah 11 bulan paling mengesankan dalam kehidupanku. Saat Allah Ta’ala mengamanahkan keluarga ini dengan seorang bayi laki-laki yang sangat shaleh dan tidak rewel. Bayi laki-laki yang bukan saja menjadi kebanggaan kami orang tuanya tetapi juga kecintaan kakek dan neneknya. Bayi laki-laki yang selalu tersenyum dan jarang sekali menangis. Bayi laki-laki yang menjadi penghibur lara dan letih saat kami pulang dari tempat kerja. Bayi laki-laki yang begitu kami cintai dengan segenap jiwa dan raga kami. Bayi laki-laki yang kami namai Umar Abdurrahman. Dengan berharap bahwa besar nanti dia bisa menjadi lelaki yang tegas dalam menegakkan kebenaran tetapi tetap santun dan mengasihi sesamanya.

Namun, rencana Allah Ta’ala berkata lain. Umar Abdurrahman ternyata terpilih untuk kembali keharibaan-Nya.

Rabbana, ajari kami untuk dapat ikhlas dalam menghadapi setiap keputusanmu, sebagaimana Ibrahim ‘alaihi salam yang diuji keikhlasannya saat menjalankan perintah-Mu untuk menyembelih putranya Ismail ‘alaihi Salam.

Rabbana, ajari kami untuk dapat tegar dalam menghadapi kehilangan ini, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tetap tegar saat memangku Ibrahim putra lelaki kesayangannya saat dipanggil oleh-Mu saat masih kecil.

Rabbana, ajari kami untuk dapat memahami ibrah apa yang terkandung didalam setiap kejadian dalam kehidupan kami.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri (Al-Quran Surat Al-Hadid, 22-23)

Masa Kecil : Antara Aku dan Fathimah

8 Januari 2015

Dahulu, aku selalu berangkat sekolah bersama-sama dengan teman dengan berjalan kaki. Aku, yang rumahnya paling jauh, memulai perjalanan dengan menghampiri berita-main-kelereng_20170305_173423rumah teman pertama, kemudian kami berdua menghampiri rumah teman kedua dan seterusnya. Jarak komplek rumah kami dengan sekolah lumayan jauh untuk ukuran anak SD. Kegiatan mendatangi rumah teman untuk mengajaknya berangkat sekolah disebut dengan “nyampeur”.

Dahulu, waktu sekolah kami tidaklah terlalu lama karena dahulu tidak ada yang namanya full-day school. Paling lama pukul 12 siang kami sudah sampai di rumah. Selepas shalat dzuhur dan makan siang, terbentang waktu yang sangat lapang buat kami, anak-anak SD yang memang senang bermain. Bila musimnya tiba kami membawa layang-layang lengkap dengan benang dan gelasan. Gelasan ini adalah upgrade dari benang dengan tambahan bulir gelas sehingga bisa dipakai untuk “ngadu” layang layang. Bukan hanya itu, seabreg mainan siap memanjakan kami. Sebut saja main gambar, kaleci (kelereng), sorodot gaplok, kasti, sapintrong, galah asin, boy-boyan, ucing sumput (petak umpet), gatrik, dan lain sebagainya. Apalagi bila musim liburan tiba. Wahana ekplorasi kami semakin luas. Dari mulai nonton sepakbola tarkam sampai berenang di sungai. Tidak jarang kami menjelajah daerah yang sama sekali belum pernah kami jelajahi. Dalam basa Sunda, tradisi menjelajah ini biasa disebut “Jarambah”.

Memang tidak pernah nonton TV? oh, tentu saja ada. Tapi dahulu channel TV tidak banyak dan kita sudah tahu kapan saja waktunya ada acara-acara film itu. Mulai dari film legendaris si Unyil hingga film kartun seperti Google V, The Mask, Flash Gordon, Silver Hawk, hingga film Jepang semacam Lion Man. Tapi, karena waktu pemutaran sebentar dan jadwalnya terukur, kami tidak banyak menghabiskan waktu-waktu kami untuk menonton televisi. Dunia bermain, diluar sana, jauh lebih menantang dan menarik dibandingkan nongkrong di depan televisi.

Memang tidak ada Video Game? Oh, dulu belum ada Playstation, Game Online atau semacamnya. Game paling canggih yang pernah kami mainkan adalah GameWatch (dibaca Gimbot) yang biasa kami sewa di taman dekat rumah. Ada beberapa permainan Gimbot yang ada seperti Gimbot Kereta Api, Gimbot Kapal Selam dan Gimbot Koboi. Kami tidak banyak bermain Gimbot ini karena kami harus menyewa Gimbot itu dari Bapak penyewa Gimbot. Jadi, konsekuensinya, semain lama bermain, semakin banyak uang dari kantong harus dikeluarkan.

Selepas bermain dari siang sampai waktu Ashar atau lebih, kami menutup hari dengan pergi ke masjid dan mengaji. Waktu mengaji ini biasanya ba’da Maghrib sampai Ba’da Isya. Belum ada metode Iqra waktu itu jadi kami belajar dengan cara ‘tradisional’ dengan bimbingan Pak Ustadz lulusan pesantren dari Cianjur atau Sukabumi. Bukan hanya mengaji, kami pun belajar Fiqh dan lain-lain dari beliau dengan referensi kitab kuning semacam Safinatun Najah, Tijan Darori, Tanbihul Ghafilin dll. Cara mengajarnya pun dengan metode klasikal .Ajaibnya, hingga 30 tahun masa belajar itu lewat, aku masih menghafal bagaimana dulu Pak Ustadz mengajar.
“Bismillahi – ngawiti ingsun ing iki kitab kang den ngarani kitab safinatun najah. Hal le nuwun pitulung lan ngalap berkah kalawan nyebat asmaning Allah”
Selepas Isya, kami biasanya mengerjakan PR (bila ada PR). Itu pun paling lama sampai pukul 8 malam. Tidak ada nonton joget-joget YKS, tidak ada nonton jingkrak-jingkrak dangdut di TV. Hening. Istirahatnya maksimal sampai besok hari memulai belajar kembali.

Fathimah nampak masih mengantuk saat dibangunkan. Waktu menunjukkan pukul 5 overloadpagi. Dengan langkah berat Fathimah masuk ke kamar mandi, ambil air wudhu dan shalat shubuh. Selepas itu, Fathimah duduk di meja makan. Hidangan sarapan sudah tersedia. Sembari sarapan, channel channel TV mulai berhamburan menghampiri anak-anak. Sponges Bob, Chalk Zone, Sofia The First dll. Seringkali Fathimah diperingatkan oleh Nenek dan Ibunya karena hilang fokus makannya karena asyiknya tayangan Sofia the First yang dia gandrungi. Selepas makan, mandi pagi dan tengg….pukul 06.45 Fathimah diantar ke sekolah. Fathimah ini kelas 2 SD lho dan dia harus berangkat sekolah sama dengan berangkatnya orang-orang dewasa bekerja. Memang mulai belajar pukul 08.00 tapi dia harus menjalani Morning Journal setiap hari pada pukul 07.30.

Pukul 08.00-Pukul 15.30 adalah waktu yang sangat lama, menurutku untuk anak SD, yang harus dihabiskan di sekolah. Selain Ilmu Umum juga ada konten lokal semisal Al-Quran Hadits, Fiqh, Bahasa Arab, TIK, dan lain lain. Kurikulum 2013? Tematik? Waduh makhluk apa lagi ini? Yang aku tahu, sepulang sekolah sampai di rumah pukul 16.30 wajah Fathimah sudah nampak sangat lelah. Mandi, makan sore sambil ditemani Pororo hingga maghrib. Tadinya kami ingin Maghrib-Isya ini belajar mengaji seperti tradisi ayahnya dahulu. Tapi, apa mau dikata, dia sudah menghempaskan diri di kasur empuknya dan menghilang di balik peraduannya.

Khawatir. Kata itu cukup mewakili gejolak hatiku saat ini. Ditengah gempuran media sepanjang waktu, oase imani untuk anak-anak semakin hari semakin kering dan sulit untuk diisi lagi dengan kesejukan tilawah Al-Quran, khyusuknya shalat berjamaah, dan belajar kesantunan dan tata krama. Terlebih dia kehilangan waktu bermainnya karena harus dijejali mata pelajaran yang menggunung yang harus dia pelajari setiap hari. hmmm…seringkali bimbang itu hadir….apakah uang berjuta-juta yang aku keluarkan untuk sekolah Fathimah ini dapat berbuah manis di masa depan dia nanti atau ini menjadi bumerang bagi orang tuanya yang menyangka bahwa sekolah bergengsi itu bisa menghasilkan anak yang super dan juga shaleh?

Don’t Be Afraid to Fail, Be Afraid Not to Try

jumping8 Januari 2015

Fragment I:
Suatu hari Fathimah dimarahi oleh Nenek dan Bundanya. Pasalnya, seusai mandi, rambutnya penuh dengan potongan-potongan benda kecil yang tidak diketahui darimana asalnya.
“Lho, ini putih-putih kenapa Fathimah?” tanya Nenek.
“Ini, aku khan lihat di halaman ada bunga yang harum. Aku potong kecil kecil bunga itu dan kutaburkan di rambutku agar rambutku harum”
Sontak saja Nenek dan Bundanya kaget.
“Kamu koq coba-coba begitu. Nggak boleh sembarangan. Walau bunganya harum tapi tidak begitu caranya” ujar Nenek. Bundanya pun ikut memarahi Fathimah yang dianggap tidak memberitahukan “eksperimennya” itu kepadanya.
Aku yang sudah sejak tadi melihat percakapan itu memanggil Fathimah.
“Fathimah. Sini. Pipi mau tanya, kenapa Fathimah melakukan itu?”
“Pi, aku ingin mencoba. Kemarin aku lihat Khadijah dimandikan oleh Nenek dan rambutnya dilumuri oleh bunga-bungaan. Aku bertanya pada Nenek itu apa. Kata Nenek ini bunga kembang sepatu. Aku tertarik untuk mencobanya jadi aku melakukan sendiri”.
“Jadi yang tadi Fathimah potong kecil-kecil untuk rambut itu bunga kembang sepatu?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya menemukan bunga yang harum di halaman depan jadi ya aku coba saja”
“Fathimah, begini. Engkau boleh mencoba sesuatu yang kamu tertarik untuk melakukannya. Hanya saja, dalam melakukan segala sesuatu itu kamu harus memiliki ilmu tentangnya. Fathimah ingat tempo hari Krong, temannya Pororo, masuk ke rumahnya Edy kemudian mencoba menjalankan robot buatan Edy. Bolehkah Krong melakukan itu? Tentu saja boleh. Tetapi Krong seharusnya bertanya dulu kepada Edy. Kenapa? Karena Edy yang lebih memahami bagaimana menjalankan robot itu. Jadi, untuk selanjutnya, kalau Fathimah memang mau keramas dengan bunga, Fathimah tahu khan kepada siapa Fathimah harus bertanya?”
“Iya. Kepada Nenek. Karena Nenek yang lebih tahu kembang apa yang bagus untuk rambutku”
“Bagus. Jadi Fathimah sudah mengerti ya?”
“Iya Pi.

Fragment II:
Meja setinggi 1,2 meter itu baru kemarin aku masukkan ke ruang tidur. Bukan apa-apa, Segala macam peralatan bayi punya Khadijah tidak elok dipandang berada di lantai berserakan jadi kupikir ada baiknya di simpan di bagian bawah meja tersebut.
Ternyata, meja itu menarik perhatian Ali. The Little Climber yang sudah sukses menaiki meja belajar Fathimah, meja makan dan teralis jendela ruang tamu itu, nampaknya sangat tertarik untuk menaklukan meja baru tersebut. Apalagi, karena meja itu berada di sudut dan bersinggungan dengan tempat tidur, dengan mudahnya dia naik ke meja barunya itu. Tapi, tidak semudah yang Ali kira, karena setiap kali dia naik maka Bundanya terus melarangnya. “Ali, jangan naik, nanti jatuh”. Ali pun berulangkali mengurungkan niatnya menaiki meja yang berdiri menantangnya itu.
Sampai suatu saat, ketika Bunda sedang membereskan dan kamar tamu dan kami diminta eksodus ke kamar tidur, Ali punya kesempatan besar untuk melaksanakan keinginannya itu. Sesaat, Ali melihat ke arahku. Agak ragu, dia mulai menaiki meja itu. Aku hanya memperhatikan saja. Dia semakin berani karena ternyata Ayahnya tidak melarangnya untuk melakukan itu. Sampai dia berada diatas meja tersebut, berdiri dan memandang ke bawah seolah berkata “Yes, aku berhasil menaklukan meja itu”.
“Ali, ayo turun” Kataku singkat.
Ali pun berubah posisi dari awalnya berdiri menjadi jongkok dan akhirnya duduk dan akan turun.
“Bukan begitu caranya”
Aku menghampirinya, memintanya berdiri lagi dan aku meminta kedua tangannya memegang tanganku erat.
“Siap?. Meluncur”
Aku mengangkat tangannya seperti anak-anak bermain flying fox dari atas ke bawah. Iya, dia senang sekali dan berteriak “Yeeee….”
Berulangkali aku melakukan itu sampai pada suatu saat.
“Nah, sekarang Pipi tidak akan pegang tangan Ali lagi. Sekarang Ali loncat ya”
Dia bingung. Dia harus menaklukan ketinggian 1 meter dengan meloncat. Tentu saja landingnya bukan di lantai tapi di kasur yang tingginya 15-20 cm dari atas lantai.
“Ayo loncat. Jangan takut ya. Pipi hitung ya, 1,2,…..3”
Dia pun melakukan loncatan pertama dan mendarat di atas kasur dengan sempurna. Kembali, ini kegirangan kedua. Dia pun melakukan loncatan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai Bundanya datang dan latihan “Parkour” pun usai

Dunia anak adalah dunia tanpa rasa takut. Selalu ada risiko dari setiap aktivitas luar biasa yang mereka lakukan. Yang harus kita lakukan bukanlah membuat sekat yang sempit mengelilinginya sehingga dia tidak pernah mencoba menaklukan tantangan-tantangan baru setiap harinya. Yang perlu kita lakukan adalah memberikan arahan pada mereka agar setiap ekperimen, ekplorasi, tantangan dan pengalaman baru yang mereka jumpai setiap harinya dapat dijalani dengan aman dan terjauh dari risiko yang membahayakan keselamatannya.

Fathimah, Ali, ini dunia kalian. Belajarlah darinya sebanyak mungkin. Insya Allah, selagi Allah Ta’ala memberikan luang waktu pada Ayahmu di dunia ini, akan kutemani kalian mengarungi perjalanan luar biasa yang terbentang luas di hadapan kalian.

Fathimah dan Dunia Rajutnya

Dalam beberapa bulan terakhir, Fathimah begitu intens menggeluti hobinya yang baru. Rajut. Ya, Rajut. Hobi yang sebenarnya ‘ketinggalan jaman’ bila dibandingkan hobi beberapa teman-teman sekolahnya yang menggandrungi game online Mobile Legend dan PUBG. Atau dunia Youtube sebagai content creator atau cuma cuap-cuap sebagai seorang Vlogger. Tapi justru disitu aku bersyukur. Ditengah derasnya dunia online yang merangsek ke setiap rusuk kehidupan, ada anak yang masih menggandrungi hobi old-fashioned seperti Fathimah ini.

Sebagai orang tua, memenuhi hobi anak yang unik ini kadangkala memusingkan. Beberapa minggu lalu Fathimah mengutarakan keinginannya untuk mempunyai alat rajut. Keinginan ini adalah akumulasi dari aksi menonton youtube sampai berjam-jam hanya untuk melihat bagaimana para perajut memeragakan aksi dan triknya. Jangan ditanya bagaimana efek dari demam rajut ini ke aktivitas sekolahnya. Bahkan sampai besok mau ulangan matematika, Fathimah malah asyik dengan video tutorial rajutnya. Akhirnya keinginannya untuk memiliki alat rajut dan benang terpenuhi. Salah satu Mal di dekat Stasiun Bekasi ternyata merupakan pusat bahan rajut yang lumayan lengkap. Dibelilah satu buah alat rajut dan beberapa benang warna pilihan.

Aku kira demam Fathimah sudah sampai disitu. Ternyata tidak. Dalam percobaan awal merajut, Fathimah mengeluhkan dengan kualitas benang yang dia pakai. Sampai suatu saat dia mengungkapkan keinginan untuk membeli benang baru dengan kualitas lebih bagus.

“Beli dimana? Bukalapak? Tokopedia?” Tanyaku.

“Bukan. Dia punya toko online sendiri”

Fathimah menyodorkan toko online yang dimaksud. Karena proses pembelian di toko online seperti ini berbeda dengan pembelian di BL/Toped, aku turun tangan untuk proses pembeliannya.  Dia sampai memilih kode benang yang akan dia beli sesuai dengan warna yang dia suka. Singkat cerita order diproses hari Jumat pekan lalu. Transfer melalui BCA. Agak riskan juga soalnya setelah transfer tidak ada berita apa-apa dari sang punya toko tentang status pengiriman. Hingga pada hari Senin kiriman benang ternyata sudah datang. Luar biasa memang. Padahal pengirimnya, setelah ditelusuri, daerah Klaten Jawa Tengah.

Selanjutnya sudah bisa ditebak. Paket yang dia tunggu-tunggu pun akhirnya dia buka. Saking senangnya, dia sampai membuat satu rekaman video untuk Unboxing paket benang itu. Akhirnya aku punya ide untuk mengedit video yang dia buat dan mengunggahnya di Youtube.

Hari ini adalah hari kedua Fathimah berkutat dengan Dunia Rajutnya. Dan inilah progres yang dia capai hingga sore hari tadi

IMG_20190212_231409_HHT

Targetnya, hari Minggu nanti dia menyelesaikan rajutan pertamanya. Katanya mau buat sweater. Kita nantikan saja bagaimana kelanjutannya.

Fathimah dan Ide Yang Tiada Habisnya

5 Januari 2015Print

Fathimah, putri sulungku, adalah anak yang memiliki ide yang tidak ada habisnya. Terus terang, sebagai orang tua, aku kewalahan dengan ide-idenya yang setiap hari tumpah ruah dan berharap bisa difasilitasi. Ide-ide itu kupikir lahir dari interaksinya dengan guru dan teman-temannya di sekolah dan beberapa film seri yang kupilih untuk dia tonton. Ada Doc Mcstuffin, Handy Many hingga Masha and The Bear.

Fathimah membawa biji pepaya. Sambil menatap wajahku dia berkata : “Pipi, aku ingin belajar menanam biji ini, please!”. Karena halaman depan sudah penuh oleh beton, aku ambil segenggam tanah dari pot tanaman dan disimpan di potongan botol mineral. “Terima kasih”. Dia dengan gembira menanam biji itu pada ladang tanaman pertamanya. Keesokan harinya, dia datang lagi dan berkata “Pipi, koq pepayanya belum tumbuh ya? Padahal aku sudah sirami dia dengan air”.  Ha ha ha. Aku teringat dengan salah satu episode di film MATB dimana si Beruang menanam wortel, disiram, dan langsung tumbuh besar. “Fathimah,  kalau wortelnya si Beruang itu khan Cuma film. Pada kenyataannya, biji itu akan tumbuh pelan-pelan, sampai berbulan-bulan, hingga dia tumbuh besar”. “Ohh..begitu ya” jawabnya.

Fathimah minta aku untuk menyediakan celengan untuk tabungan. Setiap hari, dia meminta beberapa rupiah untuk dia tabung di dalam celengannya itu. Aku pun bertanya, untuk apa tabungan itu. “Ya, siapa tahu nanti kalau sudah besar aku butuh laptop kaya Pipi dan Mimi jadi aku bisa beli sendiri dengan uang tabungan ini dan tidak usah minjam khan” katanya.  Jauh benar pikirannya, gumamku dalam hati. Dia menyimpan celengan itu di suatu tempat yang ‘dirahasiakan’ katanya jadi tidak bisa diambil oleh ayah dan Ibunya dan juga neneknya.

Fathimah meminta beberapa kertas hvs kosong. Aku bertanya: “buat apa?”. Jawabannya :”Aku ada ide. Nanti Pipi lihat sendiri ya!”.  Dia pun mengeluarkan beberapa pensil warna yang dipunyai dan langsung membuat tulisan dan gambar. Cukup lama. Hingga dia datang membawa beberapa kertas yang sudah penuh dengan gambar dan warna. “Ini buat Pipi” katanya menyerahkan kertas hvs yang sudah dilipat 4 seperti amplop dengan gambar wajah “pipi” di sampulnya. Aku buka dan tertegun tak bisa berkata apa-apa. Disana ada tulisan dia tentang cinta, sayang, harapan dan juga ‘pesanan’ untuk memfasilitasi ide berikutnya. Surat yang sama dia berikan untuk Ibunya, untuk adiknya, Ali. Tinggal ada satu surat lagi. “Itu buat siapa?”. “Ini buat Dede Howdy” katanya. Nama itu adalah nama panggilan untuk calon adiknya yang Insya Allah akan lahir pertengahan maret ini. “Boleh Pipi buka?”. “Boleh”. Aku pun membukanya. Isinya adalah sebuah gambar ‘teknik’ tentang ayunan, digantung di pohon dengan tali, bla-bla-bla. Dia bisa menuliskan bagaimana membuat sebuah ayunan dengan tali yang tergantung di pohon dengan runut. Dengan tulisan cover “Untuk Dede Howdy, bidadari tercantik”. Aku lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa.

Fathimah bertanya kepadaku “Pipi, bagaimana sih orang bisa membuat pesawat terbang”. Hmm…Pipinya kehabisan ide. “Ayo kita tanya sama google saja” kataku mengajaknya browsing di internet. Keluarlah beragam informasi den video tentang bagaimana membuat pesawat terbang. Fathimah nampak menikmati informasi tentang how-to-make-a-plane itu dengan lahapnya. Bahkan, pada video lain, dimana ada cara membuat pesawat terbang ‘mainan’ dia berkata “Pipi, tunggu sebentar ya!”. Dia berlari menuju tempat kertas HVS berada dan langsung kembali ke depan laptop dan memulai meniru tutorial pembuatan pesawat terbang mainan itu sampai selesai.

Ditengah keterbatasan waktu yang aku punya, sebenarnya ingin sekali mengeksplor lebih jauh luapan ide Fathimah setiap harinya. Ingin sekali aku buat semacam weekly project dimana Senin-Jumat kita belajar sesuatu, apapun itu, dan Sabtu-Ahad, bila proyek sudah sukses, aku kasih reward untuk jalan-jalan mengunjungi museum atau tempat-tempat menarik lainnya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi keluangan umur dan rizki sehingga luapan ide itu dapat dikelola oleh orang tuanya dan tidak hilang begitu saja ditelan waktu.