8 Januari 2015
Dahulu, aku selalu berangkat sekolah bersama-sama dengan teman dengan berjalan kaki. Aku, yang rumahnya paling jauh, memulai perjalanan dengan menghampiri
rumah teman pertama, kemudian kami berdua menghampiri rumah teman kedua dan seterusnya. Jarak komplek rumah kami dengan sekolah lumayan jauh untuk ukuran anak SD. Kegiatan mendatangi rumah teman untuk mengajaknya berangkat sekolah disebut dengan “nyampeur”.
Dahulu, waktu sekolah kami tidaklah terlalu lama karena dahulu tidak ada yang namanya full-day school. Paling lama pukul 12 siang kami sudah sampai di rumah. Selepas shalat dzuhur dan makan siang, terbentang waktu yang sangat lapang buat kami, anak-anak SD yang memang senang bermain. Bila musimnya tiba kami membawa layang-layang lengkap dengan benang dan gelasan. Gelasan ini adalah upgrade dari benang dengan tambahan bulir gelas sehingga bisa dipakai untuk “ngadu” layang layang. Bukan hanya itu, seabreg mainan siap memanjakan kami. Sebut saja main gambar, kaleci (kelereng), sorodot gaplok, kasti, sapintrong, galah asin, boy-boyan, ucing sumput (petak umpet), gatrik, dan lain sebagainya. Apalagi bila musim liburan tiba. Wahana ekplorasi kami semakin luas. Dari mulai nonton sepakbola tarkam sampai berenang di sungai. Tidak jarang kami menjelajah daerah yang sama sekali belum pernah kami jelajahi. Dalam basa Sunda, tradisi menjelajah ini biasa disebut “Jarambah”.
Memang tidak pernah nonton TV? oh, tentu saja ada. Tapi dahulu channel TV tidak banyak dan kita sudah tahu kapan saja waktunya ada acara-acara film itu. Mulai dari film legendaris si Unyil hingga film kartun seperti Google V, The Mask, Flash Gordon, Silver Hawk, hingga film Jepang semacam Lion Man. Tapi, karena waktu pemutaran sebentar dan jadwalnya terukur, kami tidak banyak menghabiskan waktu-waktu kami untuk menonton televisi. Dunia bermain, diluar sana, jauh lebih menantang dan menarik dibandingkan nongkrong di depan televisi.
Memang tidak ada Video Game? Oh, dulu belum ada Playstation, Game Online atau semacamnya. Game paling canggih yang pernah kami mainkan adalah GameWatch (dibaca Gimbot) yang biasa kami sewa di taman dekat rumah. Ada beberapa permainan Gimbot yang ada seperti Gimbot Kereta Api, Gimbot Kapal Selam dan Gimbot Koboi. Kami tidak banyak bermain Gimbot ini karena kami harus menyewa Gimbot itu dari Bapak penyewa Gimbot. Jadi, konsekuensinya, semain lama bermain, semakin banyak uang dari kantong harus dikeluarkan.
Selepas bermain dari siang sampai waktu Ashar atau lebih, kami menutup hari dengan pergi ke masjid dan mengaji. Waktu mengaji ini biasanya ba’da Maghrib sampai Ba’da Isya. Belum ada metode Iqra waktu itu jadi kami belajar dengan cara ‘tradisional’ dengan bimbingan Pak Ustadz lulusan pesantren dari Cianjur atau Sukabumi. Bukan hanya mengaji, kami pun belajar Fiqh dan lain-lain dari beliau dengan referensi kitab kuning semacam Safinatun Najah, Tijan Darori, Tanbihul Ghafilin dll. Cara mengajarnya pun dengan metode klasikal .Ajaibnya, hingga 30 tahun masa belajar itu lewat, aku masih menghafal bagaimana dulu Pak Ustadz mengajar.
“Bismillahi – ngawiti ingsun ing iki kitab kang den ngarani kitab safinatun najah. Hal le nuwun pitulung lan ngalap berkah kalawan nyebat asmaning Allah”
Selepas Isya, kami biasanya mengerjakan PR (bila ada PR). Itu pun paling lama sampai pukul 8 malam. Tidak ada nonton joget-joget YKS, tidak ada nonton jingkrak-jingkrak dangdut di TV. Hening. Istirahatnya maksimal sampai besok hari memulai belajar kembali.
Fathimah nampak masih mengantuk saat dibangunkan. Waktu menunjukkan pukul 5
pagi. Dengan langkah berat Fathimah masuk ke kamar mandi, ambil air wudhu dan shalat shubuh. Selepas itu, Fathimah duduk di meja makan. Hidangan sarapan sudah tersedia. Sembari sarapan, channel channel TV mulai berhamburan menghampiri anak-anak. Sponges Bob, Chalk Zone, Sofia The First dll. Seringkali Fathimah diperingatkan oleh Nenek dan Ibunya karena hilang fokus makannya karena asyiknya tayangan Sofia the First yang dia gandrungi. Selepas makan, mandi pagi dan tengg….pukul 06.45 Fathimah diantar ke sekolah. Fathimah ini kelas 2 SD lho dan dia harus berangkat sekolah sama dengan berangkatnya orang-orang dewasa bekerja. Memang mulai belajar pukul 08.00 tapi dia harus menjalani Morning Journal setiap hari pada pukul 07.30.
Pukul 08.00-Pukul 15.30 adalah waktu yang sangat lama, menurutku untuk anak SD, yang harus dihabiskan di sekolah. Selain Ilmu Umum juga ada konten lokal semisal Al-Quran Hadits, Fiqh, Bahasa Arab, TIK, dan lain lain. Kurikulum 2013? Tematik? Waduh makhluk apa lagi ini? Yang aku tahu, sepulang sekolah sampai di rumah pukul 16.30 wajah Fathimah sudah nampak sangat lelah. Mandi, makan sore sambil ditemani Pororo hingga maghrib. Tadinya kami ingin Maghrib-Isya ini belajar mengaji seperti tradisi ayahnya dahulu. Tapi, apa mau dikata, dia sudah menghempaskan diri di kasur empuknya dan menghilang di balik peraduannya.
Khawatir. Kata itu cukup mewakili gejolak hatiku saat ini. Ditengah gempuran media sepanjang waktu, oase imani untuk anak-anak semakin hari semakin kering dan sulit untuk diisi lagi dengan kesejukan tilawah Al-Quran, khyusuknya shalat berjamaah, dan belajar kesantunan dan tata krama. Terlebih dia kehilangan waktu bermainnya karena harus dijejali mata pelajaran yang menggunung yang harus dia pelajari setiap hari. hmmm…seringkali bimbang itu hadir….apakah uang berjuta-juta yang aku keluarkan untuk sekolah Fathimah ini dapat berbuah manis di masa depan dia nanti atau ini menjadi bumerang bagi orang tuanya yang menyangka bahwa sekolah bergengsi itu bisa menghasilkan anak yang super dan juga shaleh?